ARTIKEL
KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK
oleh hadi muhtarom
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahun 2006 adalah sebuah
babak baru dalam perjalanan panjang pendidikan negeri kita,Indonesia. Dimana
dunia pendidikan mengalami reformasi besar-besaran dengan diberlakukannya KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) yang memberikan otonomi dan kewenangan
yang begitu besar kepada sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan,
ujung tombak sisitem pendidikan negeri ini.
Terlepas dari siap dan
tidaknya bangsa ini menerima perubahan kurikulum beserta perangkatnya, pelaksanaan
KTSP tetap dilakukan. Pro kontra pun terjadi, bahkan beberapa plesetan mengenai
KTSP mulai bermunculan seperti kurikulum KaTeSiaPe, Kurikulum Tak Siap Pakai,
dan banyak lagi.
Beberapa pihak menyambut
baik kehadiran KTSP, namun tak jarang pula orang yang mencibir, acuh, dan
pesimis terhadap KTSP. Semua perubahan ini dianggap sama saja dengan
perubahan-perubahan sebelumnya, betapa tidak Negara ini telah mengalami
beberapa perubahan kurikulum yang bagi sebagian pihak, hasilnya tetap sama
saja.
Rendahnya mutu
pendidikan khususnya di sekolah dasar diperkuat pula oleh hasil kajian yang
dilakukan oleh Blazelly, dkk
(dalam Suderajat, 2004:2)
yang menyatakan bahwa: Pembelajaran di Indonesia cenderung sangat
teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana siswa berada. Akibatnya
peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajarinya di sekolah, guna
memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan
telah mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga mereka menjadi asing di
dalam masyarakatnya sendiri.
Salah satu upaya yang
dilakukan pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran
di tingkat sekolah dasar adalah dengan penerapkan suatu model pembelajaran
terpadu. Pembelajaran terpadu atau integrated learning merupakan suatu konsep
yang dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan
beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.
Bermakna artinya bahwa dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep
yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya
dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.(Tim pengembang D-II dan
S-2,1997:6).
Pada dasarnya model
pembelajaran terpadu merupakan system pembelajaran yang memungkinkan siswa baik
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta
prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu
akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi tema menjadi
pengendali di dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan berpartisipasi di dalam
eksplorasi tema tersebut, para siswa belajar sekaligus melakukan proses dan
siswa belajar berbagai mata pelajaran secara serempak.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud Pembelajaran Tematik?
2.
Bagaimana Karakteristik
Pembelajaran Tematik?
3.
Apa Manfaat dari
Pembelajaran Tematik?
C. Tujuan
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan
bahwa siswa telah melakukan tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan,
keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa.
Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan
tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Ditinjau dari
pengertiannya, pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau
sikap baru pada saat seseorang individu berinteraksi dengan informasi dan
lingkungan. Menurut Yunanto (2004:4), “Pembelajaran merupakan pendekatan
belajar yang memberi ruang kepada anak untuk berperan aktif dalam kegiatan
belajar.”
“Tema adalah pokok
pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraa” Depdiknas (2007:226).
Selanjutnya menurut Kunandar (2007:311), “Tema merupakan alat atau wadah untuk
mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.” Dalam
pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu
kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat
pemmbelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan
pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat
dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar
mengajar. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajatan terpadu yang menggunakan
tema sebagai pemersatu materi yang terdapat di dalam beberapa mata pelajaran
dan diberikan dalam satu kali tatap muka.
Pembelajaran tematik
dikemas dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik. Pendekatan
tematik ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran
dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema.
Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema
dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman
bermakna bagi peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran
tematik, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.
Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses
latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan
dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh
Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu
haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Pembelajaan tematik
adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata
pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema
adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan dengan
tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1.
Siswa mudah memusatkan perhatian pada
suatu tema tertentu,
2.
Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan
mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang
sama;
3.
Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih
mendalam dan berkesan;
4.
Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih
baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5.
Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan
makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6.
Siswa lebih bergairah belajar karena dapat
berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam
satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7.
Guru dapat menghemat waktu karena mata
pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan
diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk
kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
B. Karakteristik Pembelajaran
Tematik
Dalam Model Pembelajaran
Tematik di kelas awal yang diterbitkan Balitbang Diknas, tahun 2006 dikemukakan
bahwa sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik
memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik
berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek
belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu
memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik
dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences).
Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata
(konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran
tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus
pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan
dengan kehidupan siswa.
Menyajikan konsep dari berbagai
matapelajaran
Pembelajaran tematik
menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses
pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut
secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik
bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu
mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan
kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan
kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan
untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan
kebutuhannya.
Menggunakan prinsip belajar sambil bermain
dan menyenangkan
C. Manfaat Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik
lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif
dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung
dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang
dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep
yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah
dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt,
termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan
berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Dengan pelaksanaan
pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat
yaitu:
1.
Dengan menggabungkan beberapa kompetensi
dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena
tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan,
2.
Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang
bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat,
bukan tujuan akhir,
3.
Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa
akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah.
4.
Dengan adanya pemaduan antar mata
pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,
Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru
antara lain adalah sebagai berikut:
- Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran.
- Materi pelajaran tidak dibatasi oleh jam
pelajaran, melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari, mencakup berbagai
mata pelajaran.
- Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat
diajarkan secara logis dan alami. Dapat ditunjukkan bahwa belajar
merupakan kegiatan yang kontinyu, tidak terbatas pada buku paket, jam
pelajaran, atau bahkan empat dinding kelas.
- Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan
belajar ke berbagai aspek kehidupan. Guru bebas membantu siswa melihat
masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut pandang.
- Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi.
Penekanan pada kompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan
kolaborasi.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa
antara lain adalah sebagai berikut:
- Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar,
daripada hasil belajar.
- Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian
kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
- Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa –
yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong
untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan
belajar.
- Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di
dalam dan di luar kelas.
- Membantu siswa membangun hubungan antara konsep
dan ide, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.
BAB III
SIMPULAN
A. Kesimpulan
Pembelajaan tematik
adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata
pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema
adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.
Pembelajaran tematik memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut
- Berpusat pada siswa
- Memberikan pengalaman langsung
- Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
- Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
- Bersifat fleksibel
- Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan
kebutuhan siswa
- Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan
menyenangkan
Manfaat pembelajaran
tematik pembelajaran
tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara
aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman
langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang
dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep
yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.
Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget
yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada
kebutuhan dan perkembangan anak.
B. Saran
Implementasi model
pembelajaran tematik ini memerlukan adanya dedikasi yang tinggi dari
pihak guru. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya dalam melaksanakan model
pembelajaran ini yaitu sangat membutuhkan adanya kreativitas guru. Kreativitas
guru yang diperlukan, di antaranya (a) kreatif dalam memilih tema dan topik
yang harus dikaitkan dengan kebutuhan perkembangan dan minat peserta didik,
dalam hal ini terkait dengan kreatif dalam memilih bahan ajar yang relevan
dengan tema dan topik tersebut, (b) kreatif dalam membuat variasi keterpaduan
baik intra maupun antarbidang studi, (c) kreatif dalam mengelola kelas, dan (d)
kreativitas dalam menciptakan aktivitas belajar yang bermakna sehingga dapat
menumbuhkembangkan kecerdasan majemuk peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta.
Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) da Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada
Nana
Syaodinah Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (cet,.
III, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005).
Pembelajaran
Tematik Pengertian dan Metode, http://www.sarjanaku.com/2012/02/pembelajaran-tematik.html,
Pendekatan
Tematik dalam Pembelajaran, http://www.referensi.com/2012/06/pendekatan-tematik-dalam-pembelajaran.html,
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif
dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.